“Saya tidak pernah sama sekali mengucapkan akan mengurangi nilainya. Sebagai seorang guru nilai itu nomor dua bagi saya. Yang utama itu akhlaknya,” ungkap Er ditemui KPNN, Jumat (9/11) kemarin. Dikatakan Er, sebenarnya masalah tersebut sudah selesai dan tidak seharusnya diberitakan di media.
Menyinggung mengenai sikap Er yang memarahi St dan Jn di depan kelas, kata Er, dirinya hanya menasihati agar mereka tidak berduaan lagi. “Karena waktu itu saya memergoki mereka berduaan di pojok kelas, St duduk, Jn jongkok. Saya tidak bilang mereka pacaran, memarahi pun tidak,” ujarnya.
Sementara, mengenai kedatangannya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai Tanjung Redeb untuk menjenguk St, Er membenarkan hal itu. Dia sempat datang dua kali. “Saya ke sana hari Senin (5/11) pagi bersama pihak sekolah sekitar pukul 07.00 Wita, dan malamnya saya ke sana lagi atas nama pribadi karena prihatin dengan keadaannya sebagai siswa saya,” kata Er.
Er sangat menyayangkan, dirinya disangkutpautkan padahal merasa tidak melakukan seperti yang dituduhkan. Secara logika, menurut Er, jika memang St minum racun karena masalah tersebut, mengapa berselang hingga tiga hari. “Kamis (1/11) saya menegur, Minggu (4/11) kejadiannya. Jadi kejadiannya bukan Sabtu (2/11) malam,” imbuhnya.
Seperti diwartakan Kaltim Post sebelumnya, seorang siswi SMA di Berau, nekat menegak racun hama kakao, karena nilainya diancam dipotong.
Sewaktu jam istirahat sekolah, Kamis sekira pukul 10.30 Wita, korban berinisial St itu sedang asyik mengobrol bersama temannya. Tiba-tiba, ia didatangi kakak kelasnya Dr. “Saat itu, dia mau ngobrol sama saya untuk minta maaf karena sudah menuduh saya membuat keributan di kelas saat mereka belajar,” kata St, yang baru saja sadarkan diri ketika ditemui di RSUD dr Abdul Rivai, Kamis (8/11) tadi.
Tidak ingin masalahnya dicampuri, St meminta agar teman-temannya meninggalkannya bersama Dr untuk berbicara empat mata. Namun, di tengah perbincangan, ia dipergoki Er, salah seorang guru.
Er yang melihat St dan Dr sedang berduaan diduga langsung menyimpulkan St dan Dr tengah berpacaran di sekolah. “Setalah itu kami dipanggil, di depan kelas dimarahi, dan Er bilang nilai saya akan dikurangi. Saya sangat malu karena teman-teman dan kakak kelas berdatangan mengerumuni,” ujar St bercerita.
Setelah kejadian itu, St merasa tidak enak hati dan mengalami depresi. Dia khawatir jika kabar itu sampai ke telinga sang ayah. Keesokan harinya, St merasa tidak bersemangat sekolah dan selalu terpikirkan kasus yang menimpa dirinya di sekolah. Apalagi jika sampai diketahui sang ayah.
Yang bikin prihatin, tanpa pikir panjang, St mengambil racun hama kakao yang ada di rumahnya. Beruntung sang kakak cepat mengetahui keadaan St yang ditemukan sudah dalam keadaan kejang-kejang, dengan mulut yang mengeluarkan busa dan muntah-muntah. Sang kakak langsung melarikannya ke rumah sakit menggunakan sepeda motor. (kaltimpos/proberau)






0 komentar:
Posting Komentar